2026-08-11
Agentic AI, Hype dan Hope
Catatan personal seorang Front-end Developer yang mencoba Agentic AI, membandingkannya dengan Generative AI, serta pandangan tentang dampaknya terhadap cara bekerja dan masa depan industri.
Motif Kepo
Garapan sudah beres, sebagian besar task di project juga sudah beres, tinggal standby menunggu feedback dari QA. Sambil ada waktu luang, aku mencoba sesuatu yang tidak baru namun berkembang sangat cepat sekali, melebihi cepatnya C. Ronaldo mengejar rekor 1000 goalnya (Road to 1000 Goals) yaitu Agentic AI.
Dulu aku sempat skeptis untuk menggunakan lebih jauh menggunakan AI ini, serba instan dan berfikir bisa membuat aku menjadi lebih malas. Tapi aku teringat perkataan Linus Torvalds yang katanya adanya AI ini bagaikan ada Jin yang keluar dari botol https://youtu.be/mfv0V1SxbNA?si=iS8FL8Irnaffy8ya&t=2015, ya kalo keluar tidak ada salahnya untuk dimanfaatkan, jangan dimasukan lagi. Kalo aku tidak pakai maka aku akan tertinggal sama orang lain.

Sebenernya dulu aku sudah pakai AI untuk beberapa saat saja, tapi ternyata itu merupakan Generative AI, aku menanyakan sesuatu terus AI menjawab layaknya konsultan. Aku pertama kali tahu ada AI jenis agent itu dari rekan kerja aku ketika 1 on 1 meet, dia memperkenalkan seperti Google Antigravity dan Codex dari OpenAI, lalu diperkenalkan lebih jauh oleh rekan kerja yang lain ketika istirahat makan siang tentang penggunaannya, dia pakai Claude Code.
Selain itu di tempat kerja aku sudah ada sosialisasi tentang akan diprovide subscribe Claude, hal ini membuat aku jadi kepo ke Agentic AI ini.
Generative AI vs Agentic AI
Aku melihat ini kaya Konsultan vs Anak Magang yang dikasih project, kenapa anak magang? karena dia tidak tahu apa yang mesti dia lakukan setelah disuruh. Ketika aku dihadapkan dengan pekerjaan repetititf atau masalah aku langsung tanyakan ke Generative AI dan menjawab, namun di Agentic AI langsung suruh aja dan dia akan mengerjakannya untuk aku, honestly nothing fancy its still AI.

Pertama kali aku buka Google Antigravity aku kira aku missclick VSCode aku, it was just VSCode with Agentic AI.
Ideal for Work, Tapi Tidak Untuk Personal
Ketika kerja di suatu project targetnya adalah beres, sesuai dengan requirement, minim bug, dan cepat. Cocok untuk kita menyuruh anak magang (Agentic AI) menyelesaikan hal tersebut namun dengan perintah yang tepat. Tetapi untuk diluar itu sepertinya tidak dulu, menurut aku alangkah baiknya jika kita ada spare waktu kita untuk tidak menggunakan AI, kalo kata rekan kerja aku “bisi poho cara nga-import library” maksudnya lebih ke ada momen dimana kita mempertajam cara kita melakukan prompting, yaitu dengan mengerjakan sesuatu tanpa AI. Kalo kita mengerjakan sesuatu tanpa AI berarti kan kita harus belajar dulu.

PM dan Client senang dengan garapan yang cepat beres dan works, disisi lain kita terus berkembang secara pemikiran dan cara kita memperbudak AI.
Perang Ide
Jin sudah keluar dari botol dan semua orang sudah bisa membuat permintaan, tinggal kita mau minta apa. Orang yang jago ngide non-IT (vibe coding) akan bisa menyelesaikan beberapa permasalahan dengan memperbudak AI. Hasilnya, orang yang jago ngide mungkin bisa lebih cuan daripada orang IT. “Buatkan aplikasi untuk …..” ditambah modal ads + sewa buzzer agar viral mungkin bisa jadi ladang cuan. Alangkah ngerinya kalau misalkan kita jago ngide + orang IT.
dilanjut nanti lagi, sudah diassign task..